Jogja Istimewa !


Berawal dari tantangan teman-teman kantor "Kita piknik tanpa ambil cuti, yuk!" akhirnya kesampaian juga main ke Yogya (Daerah Istimewa Yogyakarta) pada sebuah weekend di awal Desember 2018. Saya kepengen membuktikan, bisa banget jalan-jalan ke Yogya & Magelang walau bukan long weekend. Kami berangkat jumat sore sepulang kantor. Dan rencananya senin sudah ngantor lagiiii.

Kami berempat (saya, Ana, Euis dan Nikmah) berangkat langsung dari kantor untuk mengejar kereta malam di Stasiun Pasar Senen Jakarta. Kereta yang membawa kami ke Yogya berjalan tepat waktu, dan kami tiba keesokan paginya di Stasiun Tugu. Yaitu sekitar pukul 08.00 pagi. Setibanya di sana, kami ditemani oleh mbak Wiwin dan suaminya yang sangat baik mengantar kami ke beberapa tujuan wisata di Yogyakarta dan sekitarnya.

Setelah sarapan soto, Candi Borobudur adalah destinasi pertama yang kami kunjungi.  Lokasi tepatnya di Kabupaten Magelang. Namun karena dekat dengan Yogya, maka banyak orang mengira Borobudur berada di DI Yogyakarta. Padahal enggak.

Kawasan wisata Candi Borobudur dikelola dengan sangat baik, relatif bersih dan tertib. Sejak dari parkiran banyak pedagang souvenir yang mengasongkan topi, tongsis dan kacamata. Mereka tahu banget apa yang diperlukan wisatawan dalam situasi yang terik dan silau di Candi Borobudur.

Tiket masuk Wisata Candi Borobudur adalah Rp. 40.000 per orang. Di dalam, wisatawan boleh memilih jalan kakik ke Candi yang jauhnya lumayan, atau naik kereta keliling dengan membayar Rp. 15.000 per orang. Walaupun sebenarnya sanggup jalan dan suasana tidak terlalu panas karena banyak pohon, kami memilih naik kereta keliling dengan alasan keterbatasan waktu. Agar banyak destinasi lain yang bisa kita kunjungi.



Melihat bangunan Candi Borobudur yang megah seperti memasuki mesin waktu. Ya, Borobudur, mesin waktu yang membuat saya membayangkan kehidupan Kerajaan Mataram abad 9 Masehi. Dan bagaimana obyek besar itu dibuat, berapa banyak tangan, tenaga dan peluh yang terlibat. Super.

Oiya, pengunjung tidak boleh ya menaiki stupa atau dinding-dinding Candi. Selain membahayakan diri sendiri juga akan merusak bangunan candi. Petugas pengamanan dari bawah selalu memantau polah wisatawan dan mengumumkan dengan pengeras suara apabila ada yang melanggara aturan. Ya daripada malu, mendingan tertib.

Destinasi berikutnya adalah Taman Sari, yaitu kolam pemandian para putri, permaisuri dan istri Sultan pada jaman dulu. Taman Sari menunjukkan betapa megahnya kesultanan Mataram dulunya. Di dekat Taman Sari ada situs Sumur Gumuling, yaitu masjid tempat beribadah yang terletak di bawah perkampungan penduduk. Untuk mencapainya, kita harus melalui terowongan yang panjang dan megah. Desain Sumur Gumuling sangat unik dan penuh filosofi. Nuansa kesakralannya sangat terasa.






Malam harinya, saya masih menikmati suasana belanja malam yang seru dan berbeda di Malioboro. Semakin malam semakin ramai. Selain belanja daster dan batik yang murah-murah, saya juga menikmati kopi dan sate yang banyak dijual di sepanjang jalan Malioboro ini.

Menikmati Yogya tempo doeloe dan jaman now memberikan kesan pengalaman yang sulit dilupakan. Pada minggu pagi, tak jauh dari tempat kami menginap, saya jalan pagi dan menyelami aktifitas warga di seputaran Monumen Tugu. Beruntung sekali saya bisa menyaksikan acara lomba Senam Yogya Istimewa di kalangan kelompok ibu-ibu. Senam yang penuh semangat diiringi musik yang menggelora. Mendengarnya langsung membuat saya merinding. Suasana gempita tersebut dilanjutkan dengan lomba balap sepeda tanpa pedal atau dikenal dengan push bike. Lucunya, peserta lomba ini adalah anak-anak usia 2-5 tahun. Kepolosan mereka membuat kita gemas, dan kepandaian mereka mendorong sepeda membuat kita terpana.



Dari kawasan tugu saya menyusuri kembali jalan Malioboro. Suasana pagi sangat berbeda dengan malam. Pagi hari kita bisa berfoto dengan lebih leluasa di Malioboro. Kami berjalan kaki menuju ke Pasar Bringharjo yang menjual aneka buah karya negeri. Beberapa daster dan tas batik saya beli. Siapa yang tahan melihat benda-benda bagus dan murah di sini. Kami melanjutkan jalan kaki hingga ke titik Nol kilometer. Ini merupakan obyek wisata kekinian karena tempatnya lapang dan bersih. Bangunan jaman belanda menjadi background yang sempurna untuk berfoto.

Banyak berjalan kaki di siang hari membuat kami sedikit lelah dan sempat terkena pusing karena saking panasnya berjalan kaki siang-siang. Untung saya bawa Mixagrip yang cepat mengatasi pusing. Mixagrip jadi penyelamat agenda jalan-jalan seru ini.  Siangnya kami mampir ke keraton Yogya dan sholat di Masjid Kauman. Di sini kami istirahat cukup lama sambil 'ngadem'

Akhir perjalanan kami dicukupkan dengan mampir ke warung brongkos Handayani di Alun-alun Kidul. Sepiring brongkos campur seharga sekitar 28 ribu rupiah. Saya juga membeli brongkos kalengan seharga 32 ribu per kaleng.  Ransel saya pun beranak, dari satu jadi 2 tas, hihihi..  Itulah resiko wisata ke surga belanja emak-emak.

Perjalanan 3 malam, 2 hari yang mengesankan.   Walaupun menyisakan kantuk, namun kami tetap semangat masuk kantor pada senin pagi.

#CeritaSamaMixagrip 2018


Komentar

Posting Komentar