Deteksi Dini Cegah Alergi


Sudah lama enggak punya anak kecil (#ups), jadi pas ikut webinar DANONE SN INDONESIA pada 25 Juni 2020 soal alergi semacam recall memory dulu pas duo Asa & Cinta kecil. Mereka ada sedikit bakat alergi, saya bilang sedikit karena dalam usia hingga remaja (hanya) beberapa kali kejadian. Terutama saat sakit dan minum obat-obatan tertentu.

Dulu cukup sering juga si kakak Cinta selalu batuk setiap kali ada angin berputar-putar di halaman rumah. Sempat dipikir itu hal biasa karena dingin dan berdebu. Tapi tidak selalu setiap dingin dan tidak selalu setiap kena debu. Apa dong? Sampai sekarang hanya menebak-nebak apakah itu termasuk alergi atau bukan. Saya tidak pernah membawanya untuk periksa, karena dianggap tidak terlalu serius. Apalagi biaya test alergi cukup mahal.

Pencetus alergi bisa sangat bervariatif, seperti debu, serbuk bunga, bulu kucing, makanan berprotein hewani, coklat dan banyak lagi. Nah, untuk tau pencegahan alergi, harus tahu jenis pencetusnya agar bisa dihindari. 

Dalam webinar ini dibahas mengenai deteksi dini alergi serta tata laksana penangannya.  Btw, ini webinar yang gak bikin ngantuk di antara webinar lain yang saya ikuti semasa pandemi Covid-19 ini. Ngendon di rumah bukan berarti gak bisa nambah ilmu kan? Apalagi MCnya adalah kesayangan kita semua para Danone Blogger yaitu mas Novaaaan... Apalagi topiknya adalah soal alergi yang dulu menjadi rasa penasaran berkepanjangan buat saya sebagai orangtua yang anaknya dikit-dikit batuk, dikit-dikit batuk.

Main dengan kucing trus gatal-gatal? Apakah alergi?


Efek domino alergi.
Alergi terjadi karena adanya disfungsi terhadap sistem kekebalan tubuh, baik itu dari faktor genetik maupun lingkungan, sehingga menimbulkan reaksi alergi dan berbagai efek yang berpengaruh negatif jangka panjang bagi anak dan keluarganya. 

Dalam webinar tersebut, Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes, (Konsultan Alergi dan Imunologi Anak) menyampaikan bahwa dampak alergi lebih dari sekedar gejala yang dialami anak itu sendiri. Bagi anak, alergi dapat meningkatkan risiko penyakit seperti hipertensi, obesitas, dan sakit jantung, serta keterlambatan pertumbuhan. Alergi secara tidak langsung juga berpengaruh pada aspek ekonomi dalam keluarga karena meminta biaya pengobatan dan biaya tidak langsung lainnya. 

Alergi juga berdampak pada psikologis anak dan orang tua. Seperti dikatakan Putu Andani M.Psi, Psikolog dari TigaGenerasi, bahwa alergi pada anak dapat menimbulkan gangguan daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif dan lemas. Orang tua pun juga mengalami beban kurang percaya diri. Oleh karena itu perlu ditanamkan semangat positif dan optimis bahwa alergi dapat dikelola dan diminimalisir dampaknya.  

“ Saya mempunyai riwayat alergi debu dan susu sapi, dan itu menurun ke anak dengan jenis alergi beragam, salah satunya alergi susu sapi. Selain dampak kesehatan dan beban ekonomi yang besar, saya dan si Kecil juga jadi penakut dalam memilih makanan. Karena itu penting untuk dilakukan pencegahan alergi sejak dini untuk menghindari dampak negatif di kemudian hari,” demikian papar Chacha Thaib, seorang Ibu dengan anak alergi.

Nutrisi Anak Alergi.
Orang tua harus lebih berhati-hati manakala tahu anaknya alergi karena sebagian alergi dipicu oleh makanan. Dalam 2 dekade terakhir, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat adanya peningkatan jumlah alergi pada anak di Indonesia, dan 60 % nya adalah alergi susu sapi pada dermatitis atopik. Biasanya ditandai gejala kulit gatal dan memerah.

Nutrisi yang tepat dan  kombinasi prebiotik dan probiotik (SINBIOTIK) akan mendukung sistem imun anak dalam menurunkan risiko alergi melalui keseimbangan mikrobiota saluran cerna. Kombinasi Prebiotik seperti FOS GOS dan Probiotik seperti B.breve telah teruji klinis bekerja secara sinergis mendorong keseimbangan kolonisasi Bifidobakterium yang dapat meningkatkan sistem imun anak.


Deteksi dini alergi itu penting.
Kenapa? Anak dengan riwayat alergi akan sering mengalami sakit seiring bertambahnya usia, bahkan diturunkan ke generasi berikutnya. Karena itu, sangat penting untuk melakukan dideteksi alergi dan pencegahan dini alergi dengan menelusuri riwayat alergi keluarga dan pemberian nutrisi yang tepat untuk mendukung sistem imun yang lebih baik.  Karena semakin cepat diketahui penyebab alergi, semakin baik penanganan dan tata kelola perawatan anak untuk meminimalisir dampak alergi yang akan dapat menimbulkan manifestasi alergi lain yang lebih serius, atau dikenal dengan Alergic March. 

Melihat dampak jangka panjang alergi yang harus dihadapi orang tua dan si Kecil, Danone SN Indonesia berkomitmen untuk menawarkan inovasi terkait deteksi risiko alergi maupun manajemen nutrisi. Danone SN Indonesia menghadirkan Allergy Risk Screener by Nutriclub untuk mempermudah orang tua mengetahui besar risiko alergi anak berdasarkan riwayat alergi keluarga. "Selain itu, kami juga menyediakan inovasi nutrisi dengan kandungan sinbotik yang sudah dipatenkan,” ujar Bapak Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia.



Allergy Risk Screener by Nutriclub yang diluncurkan sejak Maret 2020 ini telah diakses sebanyak lebih dari 20.000 kali oleh orang tua di Indonesia. Alat digital ini dapat membantu orang tua maupun tenaga ahli dalam mendeteksi risiko alergi si Kecil serta memberi edukasi mengenai pencegahan alergi sejak dini. Unduh aplikasinya di bit.ly/allergyriskscreener.

Walaupun anak-anakku sudah mulai abegeh, tapi saya coba-coba untuk mengisi kuisionernya untuk mendapatkan jawabannya.


Informasi Masalah Alergi - Nutriclub





Komentar