Langsung ke konten utama

Let’s Read, Mencukupi Hak Anak melalui Cerita Bergambar


Selama belajar dari rumah, beberapa kali Asa (10 tahun) diberi tugas membuat cerita bergambar, berupa poster atau komik.  Dia suka sekali tugas sejenis ini, karena memberi kesempatan buat dirinya berekspresi melalui tulisan dan gambar.  Sejak kecil, Asa memang menyukai menggambar di kertas maupun digital. Dia mencoba berbagai karakter gambar dengan cara belajar dari berbagai contoh dari buku maupun internet. 

Sebagai bentuk dukungan atas minatnya, saya membelikannya buku-buku cerita bergambar dan aplikasi digital buku bergambar. Karena saya sadar, adalah hak anak untuk mendapatkan informasi , pendidikan dan mengembangkan kreatifitasnya.

Jadi kalau anak bertanya, itu adalah haknya. Kewajiban orangtua memberikan jawaban yang benar sesuai usianya, bukan dibohongi. Anak itu juga kritis, nanya ini itu tentang apa saja yang dilihatnya dan dipikirkanya. Anak berhak untuk berkembang. Salah satu bentuk perkembangannya adalah memiliki pengetahuan akan dunia dan mengembangkan kreatifitas dari dalam dirinya.

Hak-hak Anak terjabarkan dalam Konvensi Hak Anak UNICEF. Tiga artikel ini saya kutip terkait hak anak akan informasi, pendidikan dan budaya. Referensi : https://www.unicef.org/child-rights-convention

Artikel 17 (Hak Anak atas Informasi)

'Every child has the right to reliable information from a variety of sources, and governments should encourage the media to provide information that children can understand. Governments must help protect children from materials that could harm them'

Setiap anak berhak untuk dapat diandalkan, informasi dari berbagai sumber, dan pemerintah harus mendorong media untuk memberikan informasi anak-anak bisa mengerti. Pemerintah harus membantu lindungi anak-anak dari bahan yang bisa menyakiti mereka.

Anak, dengan sifat-sifat alamiahnya yang suka bertanya, meniru dan mencerna informasi secara lugas, sudah seharusnya mendapatkan sumber jawaban akan pertanyaan-pertanyaannya dengan cara yang tepat sesuai usia anak.

Artikel 28 (Hak Anak atas pendidikan)

"Every child has the right to an education. Primary education must be free and different forms of secondary education must be available to every child. Discipline in schools must respect children’s dignity and their rights. Richer countries must help poorer countries achieve this"

Bahwa setiap anak berhak atas pendidikan. Pendidikan dasar harus gratis dan berbagai bentuk pendidikan menengah harus tersedia untuk setiap anak. Disiplin di sekolah harus menghormati martabat anak dan hak mereka. Negara yang lebih kaya harus membantu negara-negara miskin mencapai ini 

Selain pendidikan formal dengan kurikulum yang ditentukan oleh Kemdikbud, ada pendidikan informal yang didapatkan dari lingkungan keluarga. Pendidikan ini dapat disajikan oleh orangtua dalam bentuk media belajar yang beragam seperti alat peraga, melihat alam dan bahan bacaan bergambar yang mudah dicerna oleh anak-anak.

Artikel 31 (Hak Anak atas Waktu Luang, Bermain dan Budaya) 

"Every child has the right to relax, play and take part in a wide range of cultural and artistic activities."

Setiap anak berhak untuk bersantai, bermain dan ambil bagian dalam berbagai budaya dan kegiatan artistik. 

Nah, ini dia. Anak juga punya rasa capek belajar dan stres lho. Walaupun saat ini belajar dari rumah, tapi pelajaran tetap banyak. Karena itu, anak berhak mendapatkan waktu untuk relaksasi di antara waktu belajarnya. Dan perlu diingat, dunia anak adalah dunia bermain. Dalam bermain anak belajar. Karena itu, anak perlu diberi waktu melakukan hal yang disukainya. Anak-anak usia pra sekolah lebih banyak bermain, sedangkan anak-anak yang lebih besar (usia SD) akan lebih suka mengisi waktu santainya dengan berkreatifitas dan membaca.


Cerita bergambar untuk mengasah pengetahuan dan kreatifitas anak.

Seringkali, orangtua kebingungan bagaimana mencukupi hak-hak anak tersebut. Ini bisa dimaklumi, karena orangtua juga sama-sama belajar. Salah satu cara adalah dengan memberikan kepada anak buku cerita bergambar dari sumber yang tepat. Cerita bergambar dapat menghidupkan dongeng dan membuatnya semakin menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Apalagi kalau dibaca secara nyaring bersama orangtua.

Sebelum memberikannya kepada anak, orangtua harus cek ricek dulu isi buku ceritanya. Jangan sampai salah memberi buku yang bersampul seperti buku anak, padahal isinya bukan buku anak. 

Asa menyukai buku cerita bergambar dari kecil. Saya sering membawanya ke toko buku agar dia memilih sendiri buku yang disukainya.  Jenis bukunya juga berubah seiring usia. Dulu semasa kecil suka buku bertema Dinosaurus, sekarang dia menyukai petualangan seperti Petualangan Tintin dan kisah-kisah dunia seperti Mahabarata.

Rupanya, bukan hanya dari jalannya cerita yang membuat Asa tertarik, dia juga mengamati gambarnya secara detil. Dan akhir-akhir ini cara bicaranya sudah seperti kurator seni, Dia mengomentari karakter penokohan, teknik pewarnaan dan goresan dari sebuah buku cerita bergambar. 

Dari aktiftitas membaca buku cerita bergambar ini, banyak hal yang akan dikembangkan dari diri sang anak, antara lain kemampuan berimajinasi, ilmu pengetahuan umum, kemampuan bercerita, dan kemampuan menggambar. 

Biarkan anak memilih minatnya. Mungkin minatnya masih akan berubah-ubah seiring media yang disediakan oleh orangtua. Karena itu pemberian media baca ini harus dilakukan secara terus menerus agar minatnya tidak turun.



Aplikasi Let's Read

Berhubung Asa sudah bergadget-ria sejak kecil, saya tidak mewajibkannya harus buku cetak. Karena sekarang memang eranya adalah digital, maka membaca buku juga dalam bentuk digital agar anak merasa seperti 'main HP' padahal sebenarnya dia sedang membaca buku.

Pada tablet Asa, saya unduhkan Aplikasi Let's Read, yaitu aplikasi perpustakaan digital berisi buku-buku cerita bergambar untuk anak-anak. Aplikasi ini diprakarsai oleh The Asia Foundation. Tujuannya adalah untuk meningkatkan minat baca pada anak.

Tersedia dalam aplikasi Let's Read berupa buku-buku cerita bergambar dalam berbagai bahasa di dunia untuk anak dengan level usia 1-5. Tema ceritanya juga beragam, ada fabel, dongeng dunia, science, kesehatan, sosial, sejarah dll. Tentu saja dikemas dengan menarik sesuai usia anak.



Komentar Asa tentang Let's Read :

"Aku suka gambar-gambarnya, unik-unik karakternya. Pewarnaannya juga macam-macam. Ada yang pakai pensil, ada yang pakai crayon. Aku suka teknik menggambar seperti dalam  buku "Gul Di Luar Angkasa". Setiap gambar ada garis tepinya yang jelas. Tapi aku juga suka buku-buku lainnya. Bingung memilih, banyak yang kusuka."

Biasanya, Asa meminjam dari perpustakaan sekolah satu buku cerita  dalam seminggu. Dengan Aplikasi Let's Read ini, dalam sehari, Asa bisa membaca 2-3 buku. Ini cukup menggembirakan. Karena meningkatkan volume buku yang dibacanya dalam sebulan. Apalagi selama belum bisa pergi ke sekolah, aplikasi Let's Read ini sangat membantu mencukup stock bahan bacaan anak.

Buat pembaca yang ingin mengunduh aplikasi Let's Read bisa mendapatkannya di sini  https://bit.ly/downloadLR3


****


Komentar