Langsung ke konten utama

Yaay! Masuk SMA Negeri! (Cerita PPDB SMA Jawa Barat 2020)


Kami memulai proses PPDB SMA (Penerimaan Peserta Didik Baru) dengan hati kecil. Sadar diri akan kapasitas yang tipis untuk menembus berbagai jalur seleksi yang tersedia. Hanya pertolongan Allah yang kami harapkan.

Ini kali pertama kami mengikuti proses PPDB secara online. Cinta sekolah di SD swasta, yaitu SD Cipta Cendikia. Dan ketika mau masuk SMP, sempat mau ke SMP negeri dekat rumah, tetapi hati kami gamang, yakin mau melepas Cinta ke SMP negeri dengan segala drama-nya (antar jemput, jam sekolah setengah hari, tidak ada catering siang, adaptasi sosial dll), akhirnya masuk ke SMP Cipta Cendikia juga.

Berhubung di usia SMA ini sudah kami anggap sudah dewasa dan mampu berangkat ke sekolah sendiri, akhirnya kami mencoba mencari sekolah negeri.

Karena dalam proses memohon kemurahan Allah, maka "Jangan mencela proses PPDB ini ~ apalagi di media sosial" ~ adalah hal yang saya wanti-wantikan ke Cinta dan diri saya sendiri. Toh, tidak diterima bukan berarti bodoh, dan diterima juga belum tentu hebat. Enggak boleh sombong.

Cinta belum rejeki di seleksi pertama PPDB jalur prestasi nilai rapot. Sempat sedih karena mengingat usaha kerasnya selama 3 tahun di SMP belum membuahkan hasil. 

Lalu saya bilang ke Cinta, bahwa kami sebagai orangtua tidak kecewa sama sekali padanya, dan perlu diingat tidak ada yang sia-sia dari usaha dan ilmu yang dipelajari selama ini. Bahwa ada yang lebih penting dari nilai-nilai di atas kertas.

Untuk mengalihkan kegalauan, dan sambil menunggu hasil jalur zonasi, Kami pun memutuskan mendaftar ke satu sekolah swasta sebagai alternatif. Setelah daftar swasta, hati terasa ploooong...legaaa. Ternyata, bukan soal sekolah negeri atau swasta yang menjadi beban, justru ketika kami saling mengikhlaskan antara anak dan orang tua, semua terasa lebih mudah. 🥰🥰

Seleksi tahap 2 PPDB jalur zonasi tetap kami ikuti dengan harapan tipis. Saya berkalkulasi dari data pendaftar dan kuota yang ada, Cinta sudah terdepak jauh. Jarak 1.2 km dari sekolah ternyata masih terlalu jauh. Kami menangis setiap kali melihat website PPDB, padahal belum pengumuman.

Segera saya hentikan memantau website dan meminta Cinta move on, bahkan sebelum hari pengumuman. Sedih tahap dua terjadi, mewek lagi. 

8 Juli 2020, saya terbangun tengah malam. Tak bisa tidur. Mungkin karena hari itu akan ada pengumuman PPDB Jalur Zonasi. Hari yang saya siapkan untuk kecewa kesekian kali. Hanya pengen rebahan sepanjang hari. Namun di hati kecil masih menyisakan harap, pertolongan Allah akan datang. "Ya Alloh, berilah satu kursi di SMA negeri untuk anakku,"begitu doaku.

Jam 13.45, hasil seleksi sudah ditayangkan. Nama Cinta terpampang di urutan 5 terbawah. Rupanya ada penambahan kuota sehingga Cinta masuk dalam daftar yang diterima. Saya menjerit. Lalu kami menangis berpelukan. "Karena pertolongan Allah, Nak..hanya karena pertolongan Allah." 🥰🥰🥰

Cinta, mungkin ini karena kamu tersenyum pada adik, atau karena membantu Ayah mengangkat jemuran, sehingga rejeki diterima di SMAN 2 Bogor. Who knows.. 😊😊

***




Di atas adalah cerita perasaan kami yang membuncah. Pastinya banyak yang ingin tahu drama di balik PPDB SMA 2020. Setiap anak punya cerita. Dan secara teknis inilah cerita kami.

Seusai ujian sekolah, operator SMP membagikan nomor induk dan akses website PPDB SMA kepada setiap siswa.  Saat saya akses,  sudah terentri data siswa dan nilai raport. Rupanya sekolah yang melakukan entrian. Nah, tugas siswa dan ortu mengecek kebenarannya. Kadang posisi nilai berubah. Walaupun dinaikkan, hati-hati sebaiknya direvisi sesuai raport asli karena takutnya saat lulus PPDB, perbedaan data ini menjadi batu ganjalan. 

Penting juga untuk mengecek data siswa, alamat, dan titik ordinat rumah. Dalam hal ini kami masih memegang prinsip kejujuran. Karena PPDB ini tujuannya untuk menuntut ilmu, maka kami tidak ingin ilmu yang melekat pada anak seumur hidup diperoleh dari cara-cara yang kurang baik. Karena itu kami menggunakan data KK yang memang sudah kami miliki selama 10 tahun di sini. Ordinat juga setepat mungkin.

Pendaftaran dilakukan secara online, dengan mengunggah kelengkapan berkas yang diperlukan seperti SKL / Ijazah, Akta kelahiran, Kartu keluarga dan surat pernyataan tanggung jawab mutlak. Setelah submit, kita masih harus menunggu 1-2 hari untuk verifikasi oleh sekolah yang dituju, kemudian baru nama calon siswa muncul di daftar pendaftar. Ini cukup bikin deg-degan karena mengingat banyaknya pendaftar, takut terlewat verifikasi. Setelah nama muncul, baru lah hati lega.

Jalur PPDB SMA ada 2 tahap, yaitu tahap 1 (Afirmasi, ABK, Anak Guru dan tenaga medis, Prestasi rapot dan prestasi kejuaraan).

Pada periode pertama, siswa memilih jalur yang akan ditempuhnya. Jalur ini memiliki kuota 45% dan jalur rapot hanya sekitar 20% (40 an siswa). Peluangnya tentu kecil mengingat persaingan sempurna dengan lulusan SMP-SMP se Bogor raya. Cinta gagal di jalur ini. Nilainya sebenarnya cukup memadai, namun masalahnya index sekolah asal juga mempengaruhi. Karena itu penting untuk memilih sekolah dengan akreditasi bagus agar saat pendaftaran untuk jenjang berikutnya dapat mendongkrak nilai siswa.

Pada periode kedua, Cinta memilih SMA 8 (1.8 km) dan SMA 2 (1.2 km). Lokasi SMA 8 masih satu komplek perumahan, tetapi saat ditarik jarak ukur dengan google map, ternyata posisinya lebih jauh dari SMA 2. Akhirnya kami mengubah urutan pilihan, yaitu SMA 2 sebagai pilihan pertama dan SMA 8 sebagai pilihan kedua. Mengubah pilihan ini pun butuh diskusi panjang karena Cinta sejak awal ingin di SMA 8 yang notabene lebih mudah ditempuh dengan ojek. SMA 2 dekat secara gmaps, tapi kenyataannya jauh karena jalannya harus berputar melalui jalan besar.

Singkat kata, disarankan memposisikan sekolah dengan peluang tertinggi di pilihian 1.

Strategi ini membuahkan hasil. Selain dengan adanya tambahan kuota sehingga nama Cinta ada dalam daftar yang diterima.  Dari hasil yang ada, kami tahu jarak terjauh yang diterima untuk SMA 2 adalah 1.2 km dan SMA 8 adalah 1.3 km. Jarak terjauh ini bukan acuan, karena populasi calon siswa dari tahun ke tahun terus bertambah. Apalagi dengan semakin banyaknya oknum-oknum yang melakukan pindah KK ke rumah yang dekat dengan sekolah negeri demi sang anak bisa masuk ke situ.

Alhamdulillah, Cinta diterima SMA negeri. Tahun ini jalur zonasi murni dirangking dari jarak. Kabarnya ada orang yang pindah KK, namun ada syaratnya untuk KK baru minimal sudah disahkan 1 tahun lalu. Semoga tahun-tahun ke depan praktik seperti ini tidak semakin banyak. Karena kasihan anak-anak yang rumahnya memang dekat dengan sekolah menjadi tidak mendapatkan kursi.

Di sisi lain, saya harap sekolah negeri diperbanyak. Dengan jarak terjauh yang diterima masih di kisaran 1 km tersebut, kok rasanya sekolah seperti hanya milik anak satu RW. 😊


Komentar